Jaga jangan sampai serbuan teknologi canggih memisahkan anak dari alam, karena alam memberikan kesempatan anak untuk belajar banyak hal.
Berbagai gadget canggih, PC, notebook, acara televisi, game, sosial media, tidak hanya membuat kita, orang dewasa sibuk dibuatnya, namun juga mulai merambah ke keseharian anak-anak. Jangan heran jika menemukan keluarga yang asyik dengan gadget mereka masing-masing saat berada di meja makan sebuah restaurant, atau bahkan di meja saat makan malam.Padahal teknologi yang berhasil membuat kita sibuk, ternyata juga alat yang memisahkan kita dengan alam. Berpergian ke puncak tidak membuat kita mengagumi keindahan alam, namun tetap asyik mengutak-atik smartphone. Ke pantai tidak berusaha menikmati desir angin, suara ombak maupun memperhatikan berbagai keindahan yang tersaji disana, namun seru terpaku dengan game yang khusus dibawa sejak dari rumah. Perilaku ini tentu tidak hanya dimiliki orang dewasa, namun anak-anak pun mulai mengikutinya.
Padahal manusia tidak dapat dipisahkan dari alam. Begitu pula anak-anak. Alam membantu anak-anak tumbuh menjadi manusia dewasa yang sehat dan bahagia. Menurut Dr. Mary Brown, anggota dewan direktur dari American Academy of Pediatrics mengatakan bahwa sekarang banyak anak yang menunjukan simptom nature deficit disorder, istilah yang diperkenalkan oleh Dr. Brown lewat bukunya “Last Child in The Woods”.
Terputusnya anak dengan alam akan menimbulkan meningkatnya depresi pada anak-anak, gejala asma, meningkatnya kekurangan vitamin D yang bisa menyebabkan osteoporosis pada jangka panjang, dan meningkatkan kemungkinan anak terkena diabetes tipe 2. Karenanya dokter anak di Amerika kini mengkampanyekan gerakan Grow Outside, atau sesering mungkin mengajak anak untuk melakukan kontak langsung, atau bermain di alam.
Beberapa hal yang dapat dicoba untuk mengajak si kecil mengapresiasi alam, antara lain:
- Ajak mereka ke lapangan rumput yang luas, dan mintalah anak untuk bermain sesukanya disana. Misalnya bermain bola, berguling-gulingan, berlari-larian dan sebagainya.
- Ajak anak untuk mengoleksi beberapa hal yang ditemuinya di alam, misalnya daun-daun kering, batu-batuan unik, bulu burung yang tanpa sengaja terlepas dan sebagainya.
- Jika lelah dengan permainan fisik, ajaklah anak untuk duduk diam sambil memejamkan mata dan mendengarkan suara apa saja yang bisa didengarnya di alam.
- Sering-sering mengajak anak ke pantai, gunung, sawah atau tempat-tempat yang memiliki pemandangan alam yang indah. Jika perlu, tinggalkan semua gadget dan peralatan berteknologi tinggi yang Anda miliki untuk bisa lebih mengapresiasi alam.
- Sekali-sekali ajaklah anak untuk camping atau menginap di penginapan yang menyediakan alam sebagai atraksi utamanya. Mungkin penginapan sederhana yang tidak menyajikan berbagai alat berteknologi tinggi, seperti televisi, pendingin udara, telepon dan sebagainya. Tunjukan pada mereka bahwa tanpa teknologi pun Anda dapat menikmati liburan Anda dengan nyaman.[teks:esthi/foto:pix.com.ua]
Beberapa hasil penelitian yang dimuat di Majalah Psychology Today (Desember 2010) mengenai pentingnya anak bersentuhan dengan alam, diantaranya;
- Kontak dengan alam dapat mengurangi simptom gangguan rentang perhatian pada anak, minimal usia 5 tahun.
- Alam, minimal dengan memandang nuansa alam lewat jendela kamar, dapat mengurangi rasa stress pada anak.
- Anak yang lebih aktif melakukan kegiatan di alam akan mengurangi kemungkinan obesitas atau kegemukan.
- Sering bermain di alam akan mengurangi kemungkinan anak harus mengenakan kaca mata minus (myopia).
- Bermain di alam akan meningkatkan motorik kasar anak dan meningkatkan kreatifitas mereka.
- Alam akan ‘mengajarkan’ disiplin diri dan meningkatkan rasa percaya diri pada anak-anak, termasuk anak dengan keterbatasan kemampuan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar